Tim Relawan Satgas USK Tinjau Pascabanjir di Langkahan: Air Bersih dan Sanitasi Jadi Kebutuhan Paling Mendesak
Langkahan, Aceh Utara | 24 Desember 2025 — Tim Relawan Satgas Universitas Syiah Kuala (USK) bersama relawan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) melakukan peninjauan lapangan pascabanjir dan banjir bandang yang melanda Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Kunjungan ini dilakukan untuk menghimpun data dan observasi langsung di wilayah terdampak, sekaligus memetakan kebutuhan paling mendesak yang dihadapi masyarakat agar dukungan pemulihan dapat lebih tepat sasaran, terutama pada aspek sanitasi dan akses air bersih yang menjadi kebutuhan dasar paling krusial setelah bencana.
Dalam peninjauan tahap awal, tim memfokuskan observasi pada tiga desa yang terdampak langsung, yakni Desa Lebok Mane, Desa Padang Meria, dan Desa Matang Tengoh. Berdasarkan data yang dihimpun relawan, total warga terdampak di tiga desa tersebut mencapai 612 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.008 jiwa. Skala dampak ini tidak hanya terlihat pada kerusakan fisik rumah dan lingkungan, tetapi juga memengaruhi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat sehari-hari, termasuk terganggunya mobilitas, kebersihan lingkungan, dan akses terhadap fasilitas publik yang semestinya menjadi penopang pemulihan pascabencana.
Kondisi fisik dan lingkungan pascabanjir di Langkahan masih menyisakan tantangan yang nyata. Secara geografis, wilayah ini memiliki topografi yang luas dengan rumah-rumah yang tersebar dan berjauhan, dikelilingi perkebunan sawit. Setelah banjir surut, sebagian besar area masih dipenuhi lumpur yang basah dan becek. Di banyak titik, lumpur tersebut membuat akses jalan dan perlintasan warga menjadi sulit, sehingga aktivitas harian seperti menuju pasar, bekerja, atau mengakses fasilitas umum menjadi terganggu. Relawan juga mencatat adanya keluhan kesehatan pada sebagian warga berupa gatal-gatal, yang diduga berkaitan dengan paparan lumpur dan kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.
Dampak kerusakan diperparah oleh karakter banjir yang datang cepat dengan ketinggian air yang cukup parah. Kecepatan arus dan tinggi air disebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga, serta menggenangi area pertanian dan perkebunan. Beberapa rumah dilaporkan mengalami kerusakan yang membutuhkan perbaikan struktural, bahkan berpotensi memerlukan rekonstruksi lebih besar pada titik tertentu. Situasi paling berat dirasakan oleh keluarga yang tinggal di rumah-rumah yang berada pada area lebih rendah, bukan hanya karena terendam, tetapi juga karena terdampak material yang terbawa arus banjir.
Di sisi pengungsian, pola bertahan dan beradaptasi masyarakat menunjukkan dinamika yang berbeda antarwilayah. Warga di Desa Lebok Mane dan Desa Padang Meria sebagian besar mengungsi di meunasah (balai pertemuan desa), meski kondisi pengungsian tidak terlalu padat. Sementara itu, di Desa Matang Tengoh, banyak warga memilih tinggal di tenda-tenda darurat yang didirikan di sepanjang pinggir jalan atau di halaman rumah masing-masing. Relawan mencatat sebagian tenda berada dalam kondisi kurang layak, sehingga berisiko terhadap kesehatan dan kenyamanan penghuninya. Dalam situasi tertentu, beberapa keluarga memutuskan kembali ke rumah meskipun rumah dalam kondisi rusak atau belum sepenuhnya bersih, karena merasa lebih aman berada di lingkungan sendiri, walau dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Terkait bantuan, relawan mencatat bahwa dukungan logistik telah masuk ke masyarakat, terutama dalam bentuk makanan dan bahan pokok. Namun seiring waktu, sebagian besar warga mulai kembali memasak secara mandiri di rumah. Dapur umum cenderung masih berfungsi terutama di desa yang terdampak paling parah, seperti yang disebutkan terjadi di wilayah Pusaka dan Gedumbuk, sehingga fokus kebutuhan lapangan bergeser dari sekadar pemenuhan makanan menuju kebutuhan pemulihan dasar yang lebih mendesak, khususnya air bersih dan sanitasi.
Dalam temuan lapangan, kebutuhan air bersih muncul sebagai persoalan paling genting. Pascabanjir, sebagian besar sumur warga di tiga desa tidak dapat digunakan karena terkontaminasi. Kondisi ini memaksa warga melakukan aktivitas dasar seperti mencuci, mandi, bahkan buang air di “lhueng” atau paret, saluran air kecil yang airnya keruh dan tidak mengalir. Situasi tersebut menciptakan kondisi sanitasi yang sangat buruk dan meningkatkan risiko masalah kesehatan, termasuk potensi penyebaran penyakit yang dapat dengan mudah muncul setelah bencana, ketika kualitas air menurun dan kebersihan lingkungan terganggu.

Selain persoalan air bersih dan sanitasi, relawan juga menyoroti kondisi fasilitas publik yang belum sepenuhnya pulih. Jika masjid dan meunasah relatif sudah dibersihkan oleh warga secara swadaya, maka sekolah-sekolah di beberapa titik disebut belum mendapatkan perhatian pemulihan yang memadai. Kondisi ini berpotensi mengganggu keberlanjutan kegiatan belajar anak-anak apabila sekolah masih kotor, rusak, atau tidak dapat digunakan. Karena itu, pemulihan fasilitas pendidikan dipandang perlu menjadi prioritas yang berjalan seiring dengan pemulihan kebutuhan dasar lain, agar proses pemulihan tidak hanya mengembalikan aktivitas harian, tetapi juga memastikan layanan publik kembali berfungsi.

Berdasarkan hasil diskusi dengan masyarakat dan rangkuman temuan lapangan, Tim Relawan Satgas USK merekomendasikan agar upaya pemulihan tahap berikutnya memprioritaskan penyediaan air bersih dengan langkah yang cepat dan aman. Salah satu opsi yang dinilai paling memungkinkan untuk segera dilakukan adalah pembersihan sumur-sumur yang sudah ada agar kembali berfungsi, mengingat kebutuhan air bersih harus segera terjawab dalam waktu dekat. Terkait opsi sumur bor, relawan menekankan perlunya kehati-hatian dan penanganan oleh pihak profesional karena ada kekhawatiran kondisi tanah di wilayah tertentu mengandung metana, sehingga diperlukan mitigasi risiko agar tidak memunculkan masalah baru seperti sumburan gas. Sejalan dengan itu, dorongan terhadap dukungan sarana penampungan air bersih juga menjadi penting untuk membantu transisi kebutuhan warga selama proses pemulihan berlangsung.
Pada aspek sanitasi, tim menilai perlunya penyediaan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) darurat agar masyarakat memiliki pilihan yang lebih aman dan higienis dibanding memanfaatkan saluran air yang keruh. Intervensi fisik ini dipandang perlu disertai edukasi dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat pascabencana. Penyuluhan dapat dilakukan di meunasah atau ruang-ruang komunal yang mudah diakses agar pesan sanitasi menjangkau lebih banyak warga, terutama mengingat fase pascabanjir adalah periode rentan bagi munculnya penyakit yang terkait kualitas air dan lingkungan.
Untuk jangka menengah hingga panjang, Tim Relawan Satgas USK juga mendorong percepatan pemulihan infrastruktur publik yang menunjang ketahanan desa, khususnya fasilitas pendidikan dan kesehatan. Sekolah-sekolah yang terdampak perlu segera dibersihkan dan diperbaiki agar anak-anak dapat kembali belajar dengan aman, sementara fasilitas kesehatan juga perlu dipulihkan agar layanan dasar dapat berjalan memadai sekaligus mampu merespons potensi keluhan kesehatan pascabanjir di tengah kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih. Langkah-langkah ini dipandang penting bukan hanya untuk memulihkan keadaan, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana serupa di masa depan.

“Dari hasil peninjauan, kebutuhan paling mendesak warga saat ini adalah air bersih dan sanitasi. Ketika sumur tidak bisa digunakan dan warga terpaksa memakai air paret yang keruh untuk kebutuhan harian, risiko kesehatan meningkat. Karena itu, pembersihan sumur yang ada dan penyediaan fasilitas sanitasi darurat perlu segera didorong bersama,” ujar perwakilan Tim Satgas USK dalam keterangannya. Tim juga menambahkan bahwa upaya pemulihan akan lebih efektif jika kolaborasi lintas pihak dapat terbangun, sehingga bantuan tidak berhenti pada fase darurat, tetapi berlanjut pada pemulihan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. “Harapan kami, dukungan dari berbagai pihak dapat mempercepat pemulihan dan membantu masyarakat bangkit, sekaligus menjadi bukti bahwa USK hadir dan berkontribusi nyata bagi masyarakat saat menghadapi situasi sulit,” tambahnya.
Seluruh rangkaian kegiatan ini berada di bawah koordinasi Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh. Informasi resmi, laporan lokasi, dan pembaruan kegiatan tersedia melalui senyar-aceh.usk.ac.id dan Instagram @senyaracehusk. Dukungan publik dapat disalurkan melalui Rekening Donasi: BSI 7099400409 a.n. Rumah Amal USK. Posko Utama Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh beroperasi di Gedung TDMRC USK.
Call Center: 0851-2229-6004 (Pus).
