| |

IPB University dan USK Perkuat Respons Kebencanaan melalui Distribusi dan Workshop Pangan Steril Siap Santap

Foto bersama peserta dan tim ITB-USK

Rangkaian bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 mendorong terbangunnya kerja sama lintas perguruan tinggi untuk memperkuat upaya tanggap darurat, terutama dalam penyediaan pangan siap santap yang aman dan bernilai gizi. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana 2025 yang digagas oleh Kemdiktisaintek, IPB University berkolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala (USK) yang berperan sebagai kampus posko di Aceh.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama Satgas USK Respons Senyar Aceh. Ketua Satgas USK sekaligus Direktur Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK, Prof. Dr. Syamsidik, M.Sc., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim IPB University atas kontribusi nyata yang diberikan pada fase tanggap darurat. Apresiasi senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua LPPM USK Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. dra. Sulastri, M.Si., yang menilai kegiatan ini sebagai bentuk sinergi pengabdian perguruan tinggi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat terdampak bencana.

Tim IPB University yang dipimpin oleh Dr. Tjahja Muhandri tidak hanya menyalurkan pangan steril siap santap ke wilayah terdampak melalui Satgas USK, tetapi juga menggelar workshop produksi nasi steril sebagai bagian dari proses alih pengetahuan. Workshop ini bertujuan membekali akademisi, pelaku UMKM, Badan Usaha Milik Gampong, serta relawan agar kapasitas produksi pangan darurat dapat diperkuat secara berkelanjutan.

Foto bersama Kepala BBPOM Aceh dan jajarannya

Workshop yang dikoordinasikan oleh Dr. Satriana, S.TP., M.T., dengan pendampingan dari Satgas USK di bawah koordinasi Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil. dan Haekal Azief Haridhi, S.Kel., M.Sc., Ph.D., diikuti oleh 20 peserta dan didukung oleh 10 orang tim teknis. Peserta berasal dari USK serta sejumlah perguruan tinggi lainnya, seperti Universitas Abulyatama, Politeknik Kesehatan Aceh, dan AKAFARMA Aceh. Mayoritas peserta merupakan relawan USK yang diharapkan mampu melanjutkan praktik produksi pangan darurat di lapangan. Workshop ini berlangsung pada 22–23 Desember 2025 di Gedung TDMRC.

“Kami menyalurkan pangan steril berupa nasi uduk dan nasi liwet lengkap dengan lauk pauk yang dikemas menggunakan retort pouch, sehingga praktis dan aman untuk didistribusikan dalam kondisi darurat,” ujar Dr. Tjahja Muhandri. Ia menjelaskan bahwa produk tersebut dapat direhidrasi dengan cara direbus, dikukus, atau direndam dalam air hangat selama 2–3 menit, serta telah melalui uji validasi kecukupan panas sesuai dengan ketentuan pangan steril komersial. “Resep dapat dimodifikasi, namun standar operasional prosedur, khususnya terkait validasi panas, harus tetap dipenuhi,” tambahnya.

Mengingat produksi pangan steril berada dalam pengawasan ketat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, S.Farm., Apt., M.Sc., bersama jajaran turut hadir untuk meninjau pelaksanaan workshop. Ia menekankan pentingnya kecukupan fasilitas produksi serta pencegahan kontaminasi silang selama proses pengolahan. BPOM Aceh juga mendorong agar rencana pembentukan Klaster Pangan Darurat Bencana di USK secara bertahap diselaraskan dengan regulasi pangan steril komersial yang berlaku.

Penyerahan simbolis bantuan 

Pesan serupa disampaikan oleh Sondang Widya Estikasari, S.Si., Apt., MKM, Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan BPOM Pusat. “Selama izin edar belum diperoleh, produksi klaster ini hanya diperuntukkan bagi kebutuhan pangan darurat bencana dan tidak untuk tujuan komersial. Di luar masa darurat, klaster ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wahana riset dan pembelajaran bagi kalangan akademisi,” ujarnya.

Salah satu keunggulan dari kegiatan ini adalah pemanfaatan panci presto modifikasi sebagai alat sterilisasi yang relatif mudah dioperasikan dan lebih terjangkau dibandingkan retort industri. “Inovasi ini membuka peluang penguatan kesiapsiagaan pangan darurat berbasis kampus,” jelas Dr. Satriana. Dukungan pascaworkshop juga datang dari Prof. Sri Haryani, pemilik Lituna, produsen pangan steril komersial di Aceh yang telah mengantongi izin edar BPOM.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat menjadi model penguatan peran strategis perguruan tinggi dalam respons kebencanaan, khususnya dalam penyediaan pangan siap santap yang aman, bergizi, dan bermartabat,” tutup Satriana. “Lekas pulih Aceh lon sayang, lekas pulih Sumatera.”

Seluruh rangkaian kegiatan ini berada di bawah koordinasi Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh. Informasi resmi, laporan lokasi, dan pembaruan kegiatan tersedia melalui senyar-aceh.usk.ac.id dan Instagram @senyaracehusk. Dukungan publik dapat disalurkan melalui Rekening Donasi: BSI 7099400409 a.n. Rumah Amal USK. Posko Utama Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh beroperasi di Gedung TDMRC USK. Call Center: 0851-2229-6004 (Dhi).

Similar Posts