Akses Terputus, Warga Dataran Tinggi Aceh Hadapi Ancaman Krisis Pangan

Aceh Tengah – Jumat, 19 Desember 2025, Masyarakat yang tinggal di wilayah dataran tinggi Aceh, khususnya kawasan Takengon, Aceh Tengah, kini berada dalam situasi yang semakin mengkhawatirkan. Jika sebelumnya kawasan pegunungan ini kerap dihadapkan pada bencana hidrometeorologi seperti longsor dan cuaca ekstrem, saat ini ancaman yang mereka hadapi justru lebih mendasar yaitu krisis pangan akibat terputusnya akses distribusi pasca bencana longsor dan banjir Aceh.
Putusnya jalur lintas utama akibat kerusakan jembatan dan longsor di sejumlah titik telah melumpuhkan arus logistik menuju wilayah tengah Aceh. Jalur darat yang selama ini menjadi urat nadi distribusi kebutuhan pokok tidak lagi dapat dilalui. Akibatnya, pasokan bahan pangan ke desa-desa di dataran tinggi menurun drastis dan tidak menentu.
“Saat jalur darat terputus, yang paling cepat terasa dampaknya adalah dapur warga,” ujar Munadi, salah seorang relawan Satgas Senyar Universitas Syiah Kuala (USK) yang berasal dari Takengon. Ia menyebut, di lapangan masyarakat tidak lagi berbicara soal ancaman longsor atau cuaca ekstrem, melainkan soal ketersediaan beras untuk esok hari.
Hingga kini, satu-satunya jalur distribusi yang masih memungkinkan adalah melalui transportasi udara. Namun, tingginya biaya operasional membuat opsi ini sulit dilakukan secara berkelanjutan. Pengiriman logistik melalui udara belum mampu menjangkau seluruh wilayah terdampak, sementara kebutuhan masyarakat terus berjalan setiap hari.
“Kami melihat langsung bagaimana warga harus menghemat makanan. Ada yang mulai mengurangi porsi makan, ada juga yang bertahan dengan stok seadanya sambil berharap bantuan bisa segara masuk,” kata Munadi.
Situasi ini diperparah oleh keterbatasan kapasitas pemerintah daerah dalam menangani krisis akses dan logistik. Pernyataan ketidakmampuan yang sempat disampaikan pimpinan daerah mencerminkan beratnya tantangan yang dihadapi, sekaligus memperlihatkan rapuhnya sistem penanganan darurat ketika infrastruktur utama lumpuh. Namun, di tengah kondisi tersebut, masyarakat Gayo tidak memilih menyerah.

Menurut Munadi, banyak warga justru mengambil risiko besar demi bertahan hidup. Mereka berjalan kaki berkilo-kilometer menyusuri hutan tropis Sumatra, melewati jalur terjal bekas longsoran dan medan berbahaya, menuju wilayah dataran rendah seperti Bireuen dan Lhokseumawe.
“Mereka membawa hasil bumi seadanya, cabai, sayur, atau rempah untuk ditukar dengan beras, minyak, dan garam. Perjalanan itu bukan satu atau dua jam, tapi bisa seharian penuh, dengan medan yang sangat berisiko,” ujarnya.
Perjuangan itu dilakukan demi kebutuhan paling dasar yaitu agar keluarga mereka tetap bisa makan. Di balik langkah-langkah sunyi di jalur hutan, tersimpan kegelisahan para orang tua yang berusaha memastikan anak-anak mereka tidak merasakan lapar.
Kondisi yang terjadi di dataran tinggi Aceh ini menjadi peringatan serius bahwa krisis tidak selalu hadir dalam bentuk bencana besar yang datang tiba-tiba. Ketika akses terputus dan distribusi terhenti, ancaman kelaparan dapat tumbuh perlahan namun nyata, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada satu jalur utama.
“Hari ini masyarakat Gayo bukan sedang meminta lebih, mereka hanya ingin akses dibuka agar bisa hidup normal kembali,” tutur Munadi.
Kini, perjuangan masyarakat wilayah tengah Aceh bukan sekadar tentang bertahan dari alam, melainkan tentang bertahan hidup di tengah keterbatasan akses dan lambannya pemulihan infrastruktur sebuah krisis kemanusiaan skala lokal yang membutuhkan perhatian dan respons serius sebelum dampaknya semakin meluas.

Seluruh rangkaian kegiatan ini berada di bawah koordinasi Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh. Informasi resmi, laporan lokasi, dan pembaruan kegiatan tersedia melalui senyar-aceh.usk.ac.id dan Instagram @senyaracehusk. Dukungan publik dapat disalurkan melalui Rekening Donasi: BSI 7099400409 a.n. Rumah Amal USK. Posko Utama Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh beroperasi di Gedung TDMRC USK. Call Center: 0851-2229-6004.
